Jumat, 22 Maret 2019


Hasil gambar untuk produksi media cetak kit

PRODUKSI MEDIA CETAK DAN KIT


 Audiovisual sebagai Media Komunikasi Massa :

  Medium komunikasi mengalami proses cyclic (berulang), walau tidak sama. Dulu orang menggunakan oral/auditory dan  visual  secara langsung dan bersama saat berkomunikasi. Kemudian dengan menggunakan medium goresan, misalnya pada batu, kayu, dll. Kemudian menggunakan media cetak yang mudah didistribusikan ke lintas daerah. Kemudian dengan menggunakan alat elektronik:  pengeras suara. Kemudian dengan radio, alat perekam suara, telepon, sehingga pesan dapat ditransmisikan melintas wilayah dengan hampir tak terbatasi jarak dan waktu.

  Ketika gambar dan suara dapat direkam bersama dan ditransmisikan (misalnya televisi), manusia seolah kembali ke masa di mana orang berkomunikai dengan oral/auditory dan visual secara langsung dan bersama. Tetapi bedanya, komunikasi sekarang dapat dilakukan lintas ruang dan waktu.

A.  Karakteristik Media Audiovisual
Perkembangan medium audiovisual sekarang ini tidak  lepas dari media perekam visual (kamera foto), atau dengan kata lain medium audiovisual mengadopsi cara kerja mesin fotografi. Teknologi audiovisual merujuk pada audio dan visual. 
Medium film banyak digunakan untuk media audiovisual film bioskup dan iklan/acara televisi. Film dikatakan medium audiovisual yang baik (Jim Stinson-2002):
1.    Peralatan film relatif portable, sehingga lokasi produksi lebih praktis,
2.    Kemampuan untuk memproduksi gambar hitam putih atau warna sangat tinggi,
3.    Gambar dan suara direkam pada jalur yang terpisah dalam film, sehingga memberikan peluang untuk melakukan improvisasi dalam editing lebih leluasa.
Medium televisi sekarang memiliki karakteristik:
1.    Ukuran kamera lebih kecil dan portable,
2.    Fitur kamera (gambar dan suara) semakin lengkap dan terintegrasi, dan memiliki ketajaman gambar dan warga dengan kualitas yang sangat tinggi,
3.    Sistem perekaman telah disempurnakan, sehingga sinyal televisi dapat direkam dan diedit secara elektronik.

Film dan televisi seolah bersaing dalam memproduksi gambar. Namun perbedaan mendasar, film tetap menggunakan medium yang sama (pita seluloid), sedangkan televisi dengan format video. Film dikatakan lebih kaya warna jika dibandingkan dengan video. Video dipandang masih kurang jernih gambarnya dan kasar karena resolusinya rendah. Produksi film mahal dan panjang, sedang video ratusan kali lebih murah dan sederhana. Film sangat sensitif terhadap pencahayaan, maka proses lebih rumit, demikian juga proses perekaman suaranya karena dilakukan pada jalur yang berbeda. Film lebih komplek, utamanya pada color balancing, penambahan efek transisi dan editing.



B.  Era Konvergensi

   Teknologi komunikasi terkini membuat penyatuan keunggulan dan menutup kekurangan produksi film dan video. High-definition video (HDV) mampu merekam gambar hampir sama dengan film, sedangkan film mengakomodasi modus perekaman gambar secara elektronik. Proses konvergensi (penyatuan) ini melahirkan medium visual hybrid antara format film dan video. Iklan, direkam dalam format film, lalu ditransfer ke videotape, kemudian ke proses video. Pada film bioskup, special effects dibuat secara elektronik dan kemudian ditrasfer ke film. Pembuatan  special effects sendiri dengan komputer termasuk proses digitalisasi film dengan mentransfer per film frame dan mengkonversi ke pola pixels.

Proses selanjutnya adalah digitalisasi khususnya untuk tata suara pada film dan video. Dalam hal ini diperlukan software dan multiplayer sound tracks.

Konvergensi dan perkembangan teknologi media audiovisual membawa dampak: 

1.      Perluasan ragam produksi program video, pemanfaatan modus distribusi televisi siaran,                       televisi kabel, televisi satelit, dan internet,
2.      Meluasnya penggunaan video ke berbagai kehidupan, misalnya: kedokteran, pendidikan,                     industri, penegakan hukum, dsb.,
3.      Munculnya peluang karier di bidang video, 
4.      Media audio, grafis, dan audiovisual telah bertransformasi dengan sinyal digital melalui WiFi,             WiMax, atau dengan sistem distribusi nirkabel lainnya. 
5.      Mendorong perubahan dalam sistem produksi media, konsep-konsep dan teori-teori, teknologi             dan sistem distribusi, dan sistem ekonomi dan cara menghasilkan keuntungan,
6.      Terjadinya perubahan sistem dan jenis penyimpanan video, audio, dan data (digital),                             munculnya perkembangan permainan digital (games) melalui internet.

Contoh konkrit: dulunya penjualan lagu melalui pita kaset, CD, sekarang melalui nada dering               telepon seluler atau internet. Streaming video melalui internet juga akan ditingkatkan kualitasnya.

Seni dan Komunikasi Video

Komunikasi yang baik tidak lepas dari seni berkomunikasi. Oleh karena itu, untuk menjadi                   komunikator, analis, perencana komunikasi, seseorang harus memahami seni berkomunikasi.

A.  Bahasa Audiovisual

  Jika seseorang melihat film atau video, seolah-olah orang tersebut mengalami sendiri. Komunikasi video menggunakan bahasa visual, bahasa yang memiliki kaidah seperti tatabahasa tulis. Image dapat diibaratkan sebagai suatu kata, sebuah  shot seperti kalimat lengkap, sedangkan adegan (scene) adalah sebuah alinea, dan sekuen seperti bab. Bahasa visual dalam vodeo mempunyai kekuatan sosial yang sangat penting, karena akan menyampaikan pesan kepada khalayak.
Pada tingkatan dasar, video memiliki tatabahasa yang setara dengan subyek, kata kerja, predikat, atau aturan waktu. Pada tingkatan yang lebih tinggi, video memiliki semacamg kesusasteraannya sendiri, yang merupakan teknik untuk menciptakan cara berekspresi yang spesifik: komposisi dna gerak kamera, kontinuitas gambar, dan pengendalian ritme program video.
   Untuk memberikan makna pada konten film diperlukan kombinasi dari: penggunaan perangkat teknik dan penyelarasan dengan suara dan nilai-nilai kultur atau norma dan konvensi yang berkaitan dengan aksi, peristiwa, dan adegan yang ada dalam film tersebut. 

Tiga proses yang menentukan bahasa audiovisual:

1.  Overlapping practices (aktivitas yang saling tumpang tindih). Hal ini terjadi saat pengolahan               data digital dengan komputer.
2.   Memudarnya batas-batas konseptual mengenai potensi makna. Hal ini dikarenakan                              berubahnya pola distribusi film: penerapan siaran televisi  digital, home cinema, home theater.             Ini dapat memunculkan sistem berlangganan, pay-as-you-go, film/video-on-demand,
3.   Munculnya berbagai  hybrid practices  yang baru. Orang tidak sekedar menonton, tapi dengan             perangkat yang ada orang tersebut dapat melakukan interaktif, bahkan mengendalikan keadaan.

B.  Memahami Karakter Penonton

Memahami karakter penonton atau spectator adalah penting guna untuk mengetahui selera apa             yang disukai, agar karya video mendapatkan apresiasi.

Karakter penonton:

1.    Kemampuan menduga adegan selanjutnya dan ingin membuktikan dugaannya pada adegan                  berikutnya,
2.    Memiliki kecenderungan menurut terhadap alur cerita atau informasi yang diberikan oleh                   produser, walau kadang tersembunyi. Jika interpretasi salah, penonton akan menganggap suatu            surprise.
3.    Cenderung tertarik pada tokoh yang baik atau memiliki kemampuan hebat (protagonis)                        kemudian Mengikat diri kepada tokoh yang disukai,
4.    Menghitung alur pemecahan masalah, pemecahan masalah jangan terlalu ringan atau terlalu                berat

Dalam produksi audiovisual perlu mempertimbangkan/menganalisa aspek distribusi dan                       demografis.
Dalam konteks pemasaran, aspek estimasi: jumlah khalayak, komposisi demografinya, kebutuhan       dan seleranya adalah yang yang sangat mendasar dan penting. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Story about Call of Paper

 Hallo welcome back gaes, Selamat bergabung lagi di blog baru nya aku, buat yang udah sampai di blog ini selamat membaca yahhhh! oke, sesuai...